10 malam terakhir Ramadhan (I’tikaf)

Ibadah yang satu ini barangkali ibadah yang kurang di minati dan sering terlupakan. Suatu misal orang sering datang ke masjid sekurang-kurangnya minimal satu kali seminggu/sholat jum’at mereka datang ke masjid sebetulnya bisa di sertakan dengan menjalankan i’tikaf, namun entah karena lupa atau mungkin saja ketidak tahuan tantang tatacara ibadah i’tikaf.

I’tikaf menurut bahasa artinya berdiam diri, tetap di atas sesuatu, sedangkan menurut istilah  syara’ ialah berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang di sunahkan untuk di kerjakan setiap waktu, dan lebih di utamakan pada bulan ramadhan, khususnya pada hari ke sepuluh yang terakhir untuk mengharapkan datangnya atau turunnya lailatul qadar.
Dalam sebuah Hadis di terangkan sebagai berikut : artinya :

dari Ibnu Umar r.a. ia berkata : Rosulullah SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari-hari terakhir bulan ramadhan” (H.R. Bukhari dan Muslim)

dan juga di terangkan dalam hadis lain yang artinya :

dari Aisyah r.a. ia berkata : “Rosulullah SAW biasa beri’tikaf di malam-malam sepuluh yang akhir pada bulan ramadhan hingga beliau wafat, lalu di lanjutkan amal semalam ini oleh istri-istrinya” (H.R. Bukhari dan Muslim).

1. Tata Cara Beri’tikaf 
– Cara mengerjakan i’tikaf ialah dengan niat. Adapun niat-nya adalah :

“Nawaitul i’tikafa lillaahi ta’aalaa”
“Aku niat i’tikaf karena iman dan mengharap akan allah, karena allah”

– Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak dzikir, tafakur, membaca do’a tasbih dan di utamakan memperbanyak membaca Al-qur-an. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya :

dari Abi Hurairah r.a. sesungguhnya Rosulullah SAW telah bersabda : “Siapa saja yang beribadah dalam bulan ramadhan lantaran iman dan mengharap pahala, maka akan di ampuni segala dosanya yang telah lalu” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Di riwayatkan dari Aisyah r.a. katanya : yang artinya : Dan dari padanya (Aisyah r.a.) ia berkata : “Bahwasannya Nabi Muhammad SAW apabila hendak beri’tikaf , beliau shalat subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

– Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. dan di dalam i’tikaf juga di sunnahkan membaca do’a : “Allahuma innaka a’fuwun tuhibbul a’fwa fa’fu a’nhu ”
Artinya : “Ya Allah bahwasannya engkau menyukai pemaafan karena itu maafkanlah akan daku”.

2. Rukun I’tikaf
I’tikaf dianggap sah, apabila di lakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya, sebagai berikut :

  • Niat
    Niat mendekatkan diri kepada allah, jika berdiam diri tidak dalam masjid, maka tidak menjadi i’tikaf.
  • Berdiam di Masjid
    Tidak cukup berdiam sekedar thuma’ninah, tetapi harus lebih, sekurang-kurangnya berhenti (berdiam).
  • di Masjid
    I’tikaf itu di anggap sah jika di lakukan di masjid. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Dan tiada i’tikaf kecuali di masjid jami'”. (H.R. Abu Dawud)
  • Islam dan Suci
    di saratkan harus islam, akil baligh dan suci dari hadas besar.
  1. Yang Membatalkan I’tikaf
  • Keluar dari masjid dengan tidak ada keperluan yang penting bagi yang beri’tikaf
  • Becampur dengan istri.
  • Murtad
  • Hilang akal karena gila atau mabuk
  • Datang haid atau nifas (bagi kaum wanita) dan semua yang mendatangkan hadas besar.

I’tikaf boleh di kerjakan kapan saja sesuai dengan tata cara tersebut diatas. Bagi yang belum pernah sama sekali, alangkah baiknya mencoba pasti akan merasakan nikmatnya beri’tikaf. Semoga bermanfaat. “amin”.

Artikel ini bermanfaat? berbagilah dengan sahabat Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *