Kisah Imam Nawawi dan Sultan Yang Kekurangan Harta

The true love

Imam Hafez Muhayeddin Abu Zakarya Yahya bin Syaraf Nawawi, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, Beliau adalah ulama yang meninggalkan karya luar biasa. Tercatat lebih dari 20 karya besar, antara lain Syarh Sahih Muslim sekitar 12 jilid, Majmu Syarh Muhazzab 20 jilid, dan yang paling fenomenal menjadi Best Seller sepanjang masa adalah Riyadhus Shalihin, yang diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dunia.

Dalam usia yang realtif muda, beliau sangat dihormati dan disegani oleh ulama lain pada zamannya. Beliau meninggalkan banyak karya tulis dan murid-murid yang kemudian menyebar pemikiran beliau.

Pada suatu hari, Sultan yang berkuasa di Damascus akan memerangi Tartar. Berhubung ekonomi negara sedang terpuruk, Sultan berusaha mengumpulkan dana untuk membiayai perang dengan mengambil pajak dari masyarakat.

Semua ulama yang dipanggil dan dimintai pendapatnya setuju bahwa itu boleh secara syariat, kecuali Imam Nawawi yang tidak hadir. Sultanpun memanggil sang Imam dan menanyakan pendapat beliau.

“Saya setuju, apabila semua emas yang ada di istana dan seluruh perhiasan yang dipakai dayang-dayang Istana telah dikumpulkan. Apabila tidak cukup baru boleh mengambil pajak dari rakyat,” jawab Imam Nawawi dengan tegas.

Artikel ini bermanfaat? berbagilah dengan sahabat Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *