Islam Sebagai Perantara Penyelamat Derajat Kaum Wanita Dari Perbudakan. -Dunia Muslimah

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, perempuan bisa menikmati hak-haknya sebagai seorang manusia dengan jaminan dan perlindungan hukum-hukum Islam. Aneka ketidakadilan dan “perbudakan” yang dilakukan kaum laki- laki terhadap wanita dihapuskan. Beragam keistimewaan dan hak asasi pun kembali disematkan dalam tata kehidupan mereka sehingga kaum wanita dapat berpartisipasi di berbagai lapangan kehidupan, bahu-membahu bersama kaum pria membangun sebuah kehidupan yang lebih baik.
Cara-Menjadi-Wanita-Muslimah-dalam-Segi-Penampilan

Meskipun demikian, semua ini hanyalah angan-angan yang sulit terwujud apabila tidak ada “campur tangan” dan “dukungan” Allah dan Rasul-Nya melalui perantaraan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. dalam mengubah nasib kaum wanita. Terlebih lagi pandangan sistem jahiliah terhadap kaum wanita sangat ekstrem nilai keburukannya, hampir tidak ada celah untuk mengubahnya karena sudah berurat dan berakar dalam pandangan orang-orang yang hidup pasa masa itu.
Ketika masyarakat zaman jahiliah hampir di seluruh kebudayaan memandang wanita sebagai makhluk terkutuk karena digunakan oleh iblis untuk menyebarkan pikiran-pikiran jahat dan perangkap bagi kaum laki-laki. Akibatnya, kaum wanita disamakan dengan hewan yang diciptakan dalam bentuk manusia. Risalah Islam datang untuk mengoreksi semua tuduhan palsu tersebut. Alih-alih ikut menistakan, Al-Quran malah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang setara karena keduanya berasal dari sumber atau esensi yang sama.

Al-Quran menegaskan, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memper- kembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS an-Nisa [4]: 1)

Pesan yang sama terungkap pula dalam ayat, “Dilah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (QS al-Araf [7]: 189)

Allah SWT berfirman, “Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?



Artikel ini bermanfaat? berbagilah dengan sahabat Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *